Bengkel Akhlak?


Mediapublik.press (Cerita) Oleh: Supriyono - Bekasi (Jabar) Hari ini kembali aku dapat gambar dari group media social, gambarnya sederhana, tulisannya sederhana tapi maknanya dalem banget. Dalam gambar yang terkirim siang ini disitu terlihat seorang ibu guru berdiri di depan kelas dengan pakaian sangat sederhana dihadapan muridnya, kalau dilihat penampilannya mungkin foto itu diambil dari daerah agak pedalaman. Dilatar belakangya gambar para siswanya (SD) dengan tanpa alas kaki dengan beberapa senyum lebar. Lalu tulisan disampingnya berbunyi  “ GURU DIBAYAR MURAH DITUNTUT UNTUK PERBAIKI KARAKTER DAN AKHLAK ANAK_ANAK, SEDANGKAN ARTIS SINETRON DIBAYAR MAHAL UNTUK MERUSAK AKHLAK ANAK_ANAK.

Sekarang kita andai – andai mengapa tulisan ini bisa dibuat, tentu ada alasan, entah siapa yang pertama punya ide kreatif itu. Bisa dari kalangan Guru sendiri, ulama, pemerhati pendidikan dan mungkin juga orang tua yang di rumah sudah pusing menghadapi anaknya yang perilakunya sudah menyimpang.

Tulisan ini mungkin juga berawal dari minimnnya gaji Guru terutama guru honorer yang kadang kala gaji yang mereka terima jauh lebih rendah dari upah minimum propinsi. Tentunya semua sudah tahu bahwa pada umumnya gaji guru itu minim, kecuali di beberapa tempat atau propinsi. Kalaupun itu sekolah swasta tentu hanya sekolah swasta yang bonafid saja yang bisa menggaji gurunya secara layak.

Terlepas dari urusan gaji, suatu saat apabila ada anak sekolahan yang terlibat kasus tertentu semisal criminal baik yang ringan maupun yang berat, selalu yang dipertanyakan  “ Gurunya kemana? Gurunya siapa? Sekolah dimana? Apa saja yang guru ajarkan sehingga sampai begitu ??” Lihatlah juga sekeliling kita, anak anak kiita, anak anak tetangga lingkungan kita. Pernahkah kita lihat penyimpangan perilaku mereka semisal meniru gaya dan bicara artis idola mereka.

Dan lihatlah acara – acara live di TV semisal hiburan music, lawak dan sebagainya. Lihat beberapa tayangan live/langsung, penontonnya adalah anak-anak usia sekolah dan anak-anak itu dengan asyiknya menonton di saat jam jam sekolah.

Belum lagi sinetron sinetron remaja yang mengumbar masalah percintaan, hidup mewah, hura –hura dan pesta. Kita lihat pengaruh yang ditimbulkan. Coba kita perhatikan beberapa adegan sinetron yang memperlihatkan adegan ciuman , mesra-mesraan. Belum lagi  plot cerita anak sekolahan dengan dandanan menor full acesoris dan rok mini, rambut gondrong dan bahkan beberapa adegan yang seakan melecehkan profesi guru.

Jadi bagaimana? Siapa yang salah? Mana yang harus diperbaiki dan dibentengi? 

Pendidikan adalah upaya membangun karakter dan akhlak mulia, disisi lain bisnis hiburan jalan dengan bayaran artis yang begitu mahal berdampak negative terhadap anak.  Renungan kita semua , masyarakat, orang tua, Guru, pemerintah dan komisi penyiaran. Cari solusinya agar Pendidikan akhlak jalan, yang bisnis hiburan juga tetap jalan tanpa mengorbankan masa depan anak.  (priyana)

Copy

MEDIA PUBLIK

Media Cerdas Bangsa
    Facebook Comment
    Google Comment

0 comments:

Post a Comment