Sepeda Merah Si Bungsu


Mediapublik.press (Cerita) Oleh: Nur Huda - Bekasi (Jabar) Sore itu langit begitu cerah, namun warna lembayung sudah mulai kelihatan di ufuk barat, sebentar lagi menjelang magrib. Tetapi anak-anak masih asyik bermain sepeda di jalan depan rumahku, seakan-akan tidak mengenal lelah terus saja mengayuh sepeda-sepeda kecil mereka.

Waktu itu seusia merekapun aku sangat menyukai sepeda pembelian orangtuaku, sepeda merah beroda tiga. Aku masih ingat ketika diajak pindah rumah  pada waktu malam hari selepas Magrib, dengan sepeda merah kecilku aku pakai untuk bolak-balik membantu mengangkut barang-barang kecil mainanku. Sebetulnya tidak terlalu jauh jarak antara rumah yang pertama dengan rumah yang kedua kira-kira hanya 100 meter, namun memang sudah berbeda kecamatan.

Di rumah baruku ini aku tidur di sebuah “amben” (ranjang) besar ukurannya sekitar 2 X 4 meter dari kayu jati tua dan tanpa kasur hanya beralaskan tikar. Belum banyak perabotan rumah seingatku yang di bawa oleh orangtua, yang kini baru aku pahami kondisi seperti itu banyak dialami oleh keluarga baru. Bahkan tanah serta rumah itupun sebetulnya warisan dari kakek.

Aku ingin bercerita mengenai “amben” tadi, yang sebetulnya tempat bekas meletakan padi hasil panenan kakekku, sehingga ketika aku tidur kadang terasa gatal-gatal di kulit. Dan di situ pula orangtuaku menyimpan kusen-kusen pintu yang akan di pasang nanti ketika merenovasi rumah. Mungkin perlu diketahui orangtuaku pindah rumah bukan menempati rumah baru, tetapi menempati sebuah rumah tua, yang dipakai kakek untuk menyimpan hasil pertanian.

Tiba-tiba terdengar teriakan anak bungsuku, akupun tersadar dari lamunanku.

“Ayah…ayah… aku sudah bisa naik sepeda Yah…!”, teriak si Bungsu kecilku yang gembira karena bisa naik sepeda roda duanya.

Akupun tersenyum sambil berlari memeluk si Bungsu, desir kegembiraan seakan-akan terulang kembali 30 tahun silam, ketika aku hilir mudik mengayuh sepeda roda tigaku. Walaupun waktu itu aku sudah tidak seusia si bungsuku  dan  seharusnya aku sudah tidak layak memakai sepeda roda tiga. Namun orangtuaku baru bisa membelikan sepeda ketika aku menginjak usia sekolah dasar. Memang masa kecilku sebagai anak desa tidaklah seberuntung masa kecil anak-anakku, yang mereka terlahir sebagai anak metropolitan.

“Yah…tapi sepeda ini sudah jelek Yah…., Adik bisa dibeliin yang baru Yah…!” rajuk bibir mungil itu.

Akupun tersenyum, “ Ya…nanti kalau ada uang Ayah belikan ya… makanya Adik doain agar Ayah punya uang banyak…!”, jawabku sambil mencubit gemas pipinya yang seperti bakpao itu.

Memang si Bungsu ini memakai sepeda bekas kakaknya yang dulunya juga bekas dipakai keponakanku. Dari sisi kualitas sih sebetulnya masih bagus, bahkan sudah beberapa onderdilnya dan catnya aku ganti dengan yang baru, tetapi namanya juga anak-anak jaman sekarang selalu kritis dan pinter-pinter lagi.

Sebuah perubahan memang akan terus bergulir entah kita sadari atau tidak, perubahan itu akan mengilas kita. Kadang kesadaran akan adanya perubahan baru kita ketahui ketika pikiran kita flashback ke masalalu atau secara tidak sengaja memandangi foto-foto jadul yang di upload oleh beberapa teman di jejaring social. Dan pikiran kitapun akan langsung terjun ke masa lalu bersama kenangan-kenangan yang akan silih berganti menggelayuti lamunan kita.

“Yah… masuk yuk… sudah adzan Magrib!” ajak si Kakak sambil menuntun sepedanya masuk ke halaman.

Lamunankupun buyar, dan kusadari ternyata adzan Magrib sudah berkumandang dari masjid di komplekku.

“OK… kita sholat berjamaah yach, seperti kemarin...!” jawabku sambil mengandeng si Bungsu masuk ke rumah.

Memang sebersit wajah bahagiapun nampak di wajah kedua anakku, senyum tipis masih bisa mengembang dan akupun sadar betapa bahagianya keluargaku karena mempunyai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. (nur huda)

Copy

MEDIA PUBLIK

Media Cerdas Bangsa
    Facebook Comment
    Google Comment

0 comments:

Post a Comment