Mediapublik.press (Cerita) - Oleh: Fathan Kamba Hari mulai jenuh, ketika saya hendak menatap langit. Sejenak terlintas bagaimana caranya agar saya bisa keluar dari problematika hidup. Mulai berpikir dari hal-hal kecil sampai hal-hal gila, hingga sadar, dan atau tanpa sadar saya mengikuti arah senja yang semakin lama mau tenggelam.
Sesaat sebelum saya tahu kemana arah matahari membawa saya, seperti orang dejavu. Mungkin itu kata yang paling tepat, menggambarkan situasi yang saat itu saya yakin, saya pernah kesini melewati jalan ini. Dengan kenderaan roda dua sambil sesekali memandangi langit kemerah-merahan, sayapun mulai melaju kencang karena di ujung sana, Danau Limboto telah menanti kehadiran saya.
Sesaat sebelum saya tahu kemana arah matahari membawa saya, seperti orang dejavu. Mungkin itu kata yang paling tepat, menggambarkan situasi yang saat itu saya yakin, saya pernah kesini melewati jalan ini. Dengan kenderaan roda dua sambil sesekali memandangi langit kemerah-merahan, sayapun mulai melaju kencang karena di ujung sana, Danau Limboto telah menanti kehadiran saya.
Danau yang tak seindah lagi seperti dulu..!!
Danau yang tak kenal lagi masa lalu..!!
Danau yang rindu, tersedu, pilu..!! bahkan MALU..!!
Danau itu untuk bicara mengadu..!! padaku..!!
TERPAKU..!! KAKU..!! semuanya HANCUR berpadu..!! menjadi SATU..!!
Meratapi Danau Limboto yang kian lama kian memburuk. Saya meluangkan waktu sejenak untuk merenung. Merasakan bagaimana Danau itu ingin sekali lagi kembali disanjung-sanjung, dipuji-puji, dimanjakan oleh kita yang tidak peduli lagi dengannya. Setidaknya, inilah paras yang tersisa. (fath)
Copy

0 comments:
Post a Comment