Mediapublik.press (Inspiratif) - Oleh Meidy R.
Ketika sedang merenung apa arti “ KEMERDEKAAN “ ,
Ketika sedang bertanya apa yang telah saya lakukan untuk Negeriku , INDONESIA ?
Ketika sedang bergulat dengan hati yang sedikit galau waktu kubaca status teman-teman di ‘Medsos’ (Media Sosial ) tentang semua kecurangan , tentang ketidak-tegasan pemerintah , tentang ketidak-puasan atas kebijakan-kebijakan , dan banyak hal ..
Dan tiba-tiba bunyi email masuk .. ting ..
Aku membukanya .. tertera nama Riris , dari MITRA PEMBELAJAR
Disana ada sebuah PESAN ..
Aku membukanya .. tertera nama Riris , dari MITRA PEMBELAJAR
Disana ada sebuah PESAN ..
Dan Aku membacanya dengan perlahan .. namun terdengar ada getaran dalam suaraku....
Teringat aku pernah membacakannya ketika aku mengikuti Training MTA ( Menjadi Trainer Andalan ) dari MITRA PEMBELAJAR , Andreas Harefa adalah Trainer Handal yang mengajarku tentang banyak hal
Ini isi pesan itu
Ingat Pesanku Satu
(Andrias Harefa, orang biasa membangun bangsa)
Jika kau saksikan ketimpangan sosial menganga
saat sedan mewah seharga lebih 500 juta berseliweran
dan anak-anak jalanan mengemis dipersimpangan jalan
tanda kesetiakawanan sosial telah sekarat berat
maka ingat pesanku satu: jangan berhenti mencintai Indonesia
Jika kau saksikan konglomerat berkolusi dengan pejabat
mengkapling-kapling tanah airmu demi keuntungan keluarga mereka
tanpa peduli hak-hak rakyat yang katanya dijamin undang-undang
maka ingat pesanku satu: jangan berhenti mencintai Indonesia
Jika kau saksikan sarjana menganggur antri mencari kerja
dan kemiskinan dipermainkan sebagai angka-angka muslihat semata
nyatanya negeri kita tak banyak beranjak dari tahun 1945
maka ingat pesanku satu: jangan berhenti mencintai Indonesia
Jika kau saksikan elit politik membangun dinasti
saudara jadi menteri, suami jadi gubernur, istri jadi bupati,
ipar anggota dewan, anak ingusan jadi sekjen atau ketua partai
sehingga rakyat bingung bedanya feodalisme dan demokrasi
maka ingat pesanku satu: jangan berhenti mencintai Indonesia
Jika kau saksikan politisi rajin membohongi publik
dan dengan mudah menjilat ludahnya sendiri di televisi
seperti anjing yang tak punya harga diri
maka ingat pesanku satu: jangan berhenti mencintai Indonesia
Jika kau saksikan korupsi masih beranak pinak
koruptor dikagumi kelihaiannya dan dikerumuni begundalnya
di ujung Sumatera, Jawa-Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Papua sama saja
dan upaya-upaya pemberantasannya seolah-olah sia-sia belaka
maka ingat pesanku satu: jangan berhenti mencintai Indonesia
Jika kau saksikan hukum tak tegak bagi yang kaya dan berkuasa
namun kejam kepada yang miskin dan jelata
persis seperti sarang laba-laba di rumah kita
yang hanya menangkap nyamuk-lalat kecil yang tersangkut jaring
namun rusak jika dilewati anjing
maka ingat pesanku satu: jangan berhenti mencintai Indonesia
Jika kau saksikan radikalisme atas nama agama meraja lela
rumah-rumah ibadah disegel dan ditutup sesukanya
sementara rumah bordil dan panti pijat beroperasi dengan leluasa
aparat negara clingak-clinguk tak menjalankan fungsinya
dan petinggi negeri sekadar prihatin di dalam batin
maka ingat pesanku satu: jangan berhenti mencintai Indonesia
Jika kau adalah saksi dari semua yang memerihkan hati di negeri ini
negeri yang dibangun oleh tetesan darah nenek moyangmu sendiri
dan kau mulai gamang memikirkan apa makna kemerdekaan bagi rakyat jelata
sampai-sampai hilang gairahmu menaikkan merah putih di 17 agustus
maka ingat pesanku satu: jangan berhenti mencintai Indonesia
Dan aku menutupnya dengan kalimat ini
“ Takkan Berhenti Mencintai Indonesia “ (Mei)
Copy
0 comments:
Post a Comment